Di zaman sekarang ini dimana teknologi semakin menempati posisi yang sangat penting bagi semua kalangan. Semua pekerjaan dan kegiatan manusia semakin bisa dikendalikan melalui teknologi-teknologi tersebut. Pekerjaan manusia bisa secara instan dilakukan di era modern ini. Sehingga banyak sekali aturan dan adat istiadat yang banyak ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja dalam pernikahan. Sudah banyak adat pernikahan yang ditinggalkan dengan alasan terlalu merepotkan, menghabiskan banyak waktu dan biaya dan lebih memilih mengadakan resepsi pernikahan sesederhana mungkin dan lebih mengarah ke trend sekarang ini. Padahal dengan melakukan aturan adat tersebut, bisa melestarikan budaya bangsa yang memiliki nilai luhur yang tinggi. Semua adat dan aturan yang sudah diturunkan sejak dulu memiliki esensi yang cukup dalam mengenai makna pernikahan dan arti dalam membangun sebuah rumah tangga.
Meskipun sekarang sudah jarang dilakukannya adat pernikahan tersebut, namun masih bisa didapati sejumlah pasangan yang melakukan aturan adat pernikahan sukunya. Seperti yang terjadi di Kampung Mandailing, di desa Saentis, Percut Sei Tuan, Medan, Sumatera Utara pada Minggu 8 Maret 2020 yang akan mengadakan resepsi pernikahan dengan menggunakan adat Mandailing. Dalam pelaksanaan suatu perkawinan yang sah akan ditemukan serangkaian kegiatan yang harus di lakukan dalam hukum adat istiadat perkawinan. Hukum adat istiadat ini mengatur segala tata cara perkawinan di dalam masyarakat. Demikian halnya pada masyarakat Mandailing memiliki hukum adat istiadat perkawinan yang memuat serangkaian kegiatan yang di mulai dengan, mangaririt boru (menyelidiki calon pengantin), padomos hata (penyampaian maksud), patobang hata (memantapkan pembicaraan), manulak sere (menyerahkan mahar) pada saat inilah penentuan hari pesta pernikahan. Berikut penjelasan dari setiap tahap-tahap dalam meminang dalam adat Mandailing.
Mangaririt Boru
Yang pertama yaitu mangaririt boru adalah menyelidiki calon gadis yang akan dipinang. Ayah dari pihak laki-laki akan menyelidiki apakah gadis tersebut baik dan cocok untuk dipinang oleh anak lelakinya, supaya menghidari agar tidak salah pilih. Jika merasa cocok, untuk itu orang tua lelaki mendatangi rumah si gadis dan mempertanyakan kepada orang tua si gadis apakah sudah siap untuk menikah jika sudah cocok bibit bobotnya untuk dijadikan sebagai menantu. Disini berbincang-bincang lah kedua orangtua calon pengantinn tersebut untuk mengetahui anak gadis yang akan dipinang. Tetapi sesuai dengan tahapan adat mandailing, jawabannya belum diterima dihari itu melainkan di pertemuan selanjutnya.
Padomos Hata

Nah dalam tahapan kedua inilah keluarga pria mendatangi kembali rumah gadis yang akan dipinang untuk medapatkan jawaban dari keluarga si gadis. Dalam Padomos hata ini juga memiliki mekanisme yang cukup sopan untuk menanyakan kebersediaan si gadis yang akan di pinang. Contohnya seperti dialog berikut.
Ahli bait : “Apakah maksud dari keluarga abang datang kerumah kami?”
Pihak laki-laki : “Mengingat anak kami si Pulan yang sudah besar badannya, sudah tamat sekolah, sudah ada pekerjaannya, dia bercita-cita untuk berumah tangga, dan kami ingin bertanya benar di rumah bapak ini ada seorang putri yang bernama Sinta merupakan putri bapak dan apakah sudah ada yang meminangnya?”
Ahli bait : “Betul, ada putri kami yang bernama Sinta dan sepengetahuan kami belum ada yang meminangnya.”
Pihak laki-laki : “Baik la, jadi apakah kami dari pihak yang datang ini diperbolehkan untuk datang kembali meneruskan maksud kami yaitu lamaran?”
Ahli bait : “Karena si Sinta tadi belum ada yang melamar, maka tidak ada alasan kami untuk menolak niat baik dari pihak keluarga abang.”
Dalam tahap ini, keluarga juga membicarakan perlengkapan atau syarat apa saja yang dibutuhkan pada saat prosesi lamaran untuk dipersiapkan keluarga laki-laki supaya dibawa di acara lamaran. Setelah acara padomos hata pihak laki-laki akan kembali ke rumah, dan selanjutnya akan datang lagi dalam acara lamaran.
Patobang Hata

Patobang hata adalah prosesi melamar setelah melewati tahap mangaririt dan padomos hata. Dalam prosesi ini pihak keluarga laki-laki datang kembali untuk melakukan melamar yang sesungguhnya. Keluarga lelaki juga harus membawa “salipi” yaitu kantung yang berisi kapur sirih, pinang dibelah, gambir, burangir, dan tembakau yang diserahkan kepada pihak perempuan. Dalam menyerahkan salipi juga dilakukan percakapan melamar dari keluarga pria ke keluarga perempuan.
Manulak Sere
Setelah lamaran berjalan dengan lancar, selanjutnya adalah hantaran. Pihak laki-laki akan datang bersama rombongan dengan membawa semua persyaratan-persyaratan yang diminta pihak perempuan pada saat lamaran tersebut. Pihak laki-laki dan perempuan akan berdiskusi dan berbincang-bincang. Kadang menggunakan pantun/syair, contohnya:
Ke Gersik sudah ke Penang sudah
Kapan ndak ke Kedah, Kapan ndak ke Sumbawa
Jerisik dipinang sudah
Kapan ndak kami bawa
Pada saat manulak sere pihak keluarga membicarakan kapan tanggal pelaksanaan resepsi pernikahan, apa saja yang diperlukan dalam acara adat pernikahan. Pesta pernikahan dilakukan di kediaman mempelai wanita dan kemudian di kediaman mempelai pria ataupun tergantung kesepakatan keluarga.
Resepsi Adat Pernikahan
Nah, setelah melakukan prosesi pelamaran tersebut barulah melakukan acara resepsi adat pernikahannya. Disini pihak laki-laki akan datang kerumah perempuan untuk melangsungkan akad nikah, dalam akad nikah ini pihak laki-laki diwajibkan membawa Salipi. Setelah selesai akad nikah, sorenya mempelai wanita akan dibawa kerumah laki-laki untuk mengadakan pesta besar-besaran. Adapun rangkaian acara pernikahan adat mandailing di rumah mempelai laki-laki, yaitu:
Memberi Gelar , Mempelai laki-laki akan diberi gelar dengan tujuan agar anaknya pada suatu saat nanti bisa mengikuti adat pernikahan Mandailing seperti adat pernikahan ayahnya.
Kenduri , adalah masak nasi dan gulai disertai dengan doa selamat dan doa arwah.
Marhaban, adalah penyambutan kedua mempelai, dalam penyambutan ini diiringi dengan marhaban, pencak silat, dan gordang sambilan.
Tampung tawar, adalah pemberian restu kedua pihak keluarga, kaum kerabat, dan tamu undangan.
Doa selamat, adalah doa untuk kedua mempelai agar menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Membawa Kedua Mempelai ke Sungai Batang Gadis , Kedua mempelai akan dibawa ke sungai batang gadis dengan tujuan menghanyutkan perangai-perangai waktu gadis dan bujang.
Acara Makan Siang , Acara ini tamu undangan makan bersama.
Acara Hiburan, Biasanya acara hiburan di isi dengan Musik gordang sambilan dan Manortor.
Begitulah tata cara melamar dan melangsungkan resepsi adat pernikahan pada suku Mandailing walaupun sekarang ini mungkin sudah sedikit berbeda dan terkurangi keutuhan dari adat tersebut. Walaupun banyak tahapannya, di setiap proses yang dilakukan mulai dari mangaririt boru sampai resepsi pernikahan itu sendiri memiliki esensi yang baik yang mengajarkan kita untuk bersilaturahmi, mempunyai sopan satun, melestarikan kesusastraan daerah, dan melakukan kegiatan sesuai aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang nantinya akan berpengaruh baik dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Untuk itu jika bukan kita sendiri yang melestarikan dan meneruskan adat kepada generasi selanjutnya, maka seketika adat dan budaya tersebut lenyap dalam hiruk pikuk canggihnya kehidupan ini. Sekian mengenai tata cara meminang ala adat Mandailing. Semoga menambah pengetahuan kita ya!
Terimakasih.

Biodata
Penulis bernama Laila Ramadhani,merupakan mahasiswa di Universitas Negeri Medan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Nomor yang bisa dihubungi :
082164357018