Beranda Legislatif Janggal, 12 Tahun Beroperasi PT Supreme Energy Belum Hasilkan Listrik Panas Bumi

Janggal, 12 Tahun Beroperasi PT Supreme Energy Belum Hasilkan Listrik Panas Bumi

263

PAGARALAM, GP –  Program Pemerintah Pusat untuk Menjadikan salah satu daerah seperti Sumatera Selatan, dalam percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga Geothermal (Panas Bumi) untuk persediaan energy listrik berlokasi di Desa Rantau dadap Desa Tunggul Bute Kecamatan Kota Agung, Namun hingga kini Belum ada hasil Padahal sudah sejak 2008 Lalu Beroperasi, sementara Hutan Lindungpun Terus Di babat, di tiga daerah Muara Enim – Lahat dan Kota Pagaralam. 

Pantauan Media Garuda Pos. Com saat di lokasi Dan sepanjang Jalan sungguh Ironis, karna sampai tahun 2020 saat ini tidak ditemukan tiang atau pancang aliran listrik PT. Supreme energy yang infonya bakal dijual ke PLN untuk Kepentingan Masyarakat Karena kebanyakan masyarakat setempat menggunakan listrik  tenaga surya.

Padahal, pihak yang dipercayai Pemerintah Pusat dalam Hal ini PT. Supreme Energy dalam mengembangkan Produksi Listrik Panas Bumi itu sudah sejak 2008 lalu. Tapi hingga kini sudah 12 tahun, rencana pembangkit listrik Panas Bumi (Geothermal) belum juga ada Hasilnya. 

Pantauan di lokasi Media ini Rabu (22/1/2020). Sejumlah kejanggalanpun mulai tampak dari pihak PT. Supreme Energy Rantau Dedap yang beroperasi di desa Tunggul Bute Kecamatan Kota Agung Lahat Hal tersebut Setelah Tim Gabungan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lahat di Pinpin Langsung Ketua Fitrizal hormuzi, ST. dan Sejumlah Komisi serta Anggota Juga Perwakilan dari Pemerintah Daerah (Pemda), Kabupaten Lahat Yaitu Camat Kota Agung Marsi SE MM, Rabu (22/01) kunjungi Lokasi PT. Supreme Energy.

Supervisor Manager Frangki Secara sadar menyampaikan saat memaparkan di waktu Rapat bersama DPRD Di lokasi ruang kerja Kantor PT. Supreme Energy Desa tunggul bute, PT Supreme Diduga merusak Hutan Lindung Dan menyalahi Surat izin Menteri kehutanan untuk Menghasilkan Geothermal (Gas Panas Bumi) persediaan energy listrik, dampak Dari adanya aktifitas Eksplorasi dan eksploitasi Hutan lindung Bagi Tiga Daerah yaitu Muara Enim, Lahat dan Kota Pagaralam muncul Persoalan baru yaitu terjadinya Bencana Banjir dan  serangan Harimau.

Gurila Tan alias Guril dan Didampingi Prengky Dari PT. Supreme Energy, menyampaikan, memang ada sejumlah kendala dan Permasalahan utamanya yaitu disisi pembebasan lahan masih Ada yang belum selesai karena masyarakat pemilik lahan memintak harga jual yang tinggi paktor inilah menghambat Belum adanya hasil walau sudah sejak 2008 beroperasi.”ujar Frangki.

Saat ini ada 12 Sumur yang sudah Dibor namun tidak semuanya menghasilkan Uap atau Panas Bumi,”kata Supervisor Manager PT Supreme energy Prengky yang menegaskan walau sudah beroperasi sejak tahun 2008 lalu hingga kini namun Belum menghasilkan, sumber energy Listrik.”jelasnya. 

Prengky menambahkan, untuk Wilayah kerja Pagaralam Tepatnya tepatnya kecamatan Dempo Selatan Lahat Dan Muara Enim. Luas WKP 35.450 hektar.”PT. Supreme bertujuan meningkatkan ketersediaan energy listrik untuk jangka panjang, sesuai kontrak dengan Kementrian ESDM selama 35 tahun saat ini sudah Ada 12′ sumur yang dibor namun baru dapat 90 MegaWatt. 

Sementara, Ketua DPRD Lahat Fitrizal hormuzi, ST menyatakan, saat kunjungan ke PT. Supreme Energy Rantau Dadap tunggul bute, dalam menjalankan Amanah  konstitusi melakukan pengawasan karena Fitrizal menilai selama ini antara PT. Supreme energy dengan DPRD Lahat sangat jarang untuk berkomunikasi Hal ini mungkin karena waktu.” kata Fitrizal. (Pais/Novc).