Beranda Ekobis Harga Karet Terus Tepuruk, Petani Karet Mengeluh

Harga Karet Terus Tepuruk, Petani Karet Mengeluh

262

BANYUASIN, GP – Harga komoditas karet di Kabupaten Banyuasin dalam beberapa tahun terakhir masih terpuruk. Ketua Kerukunan Petani Karet Betung, Slamet pun mengeluhkan sikap pemerintah yang seolah-olah tak kunjung mampu menemukan solusi.

Volume ekspor karet Indonesia selama 2019 mengalami penurunan hingga 200 ribu ton. Penurunan ini disebabkan jatuhnya produksi akibat wabah penyakit tanaman karet menyusul rendahnya daya beli petani untuk membeli obat dan pupuk untuk merawat tanamannya.

Walaupun pemerintah sudah berupaya untuk membeli dan menyerap karet petani, Slamet menilai pemerintah dipandang belum serius mengurusi masalah ini. Ia pun mempertanyakan kepedulian Presiden Joko Widodo, yang hadir ketika kunjungan ke Balai Penelitian Sembawa beberapa waktu lalu.

Pemkab harus turut berupaya membenahi masalah yang dialami petani karet, harus berani jemput bola dan bertanya kemajuan karet dimasa akan datang. “Pemerintah tidak peduli dengan masalah karet. Komoditas kebun itu jangan dianggap enteng. Hampir sebagian masyarakat Banyuasin khususnya Betung bergantung pada komoditi karet,” beber dia.

Slamet menjelaskan, pemerintah agaknya kurang menganggap serius masalah perkebunan. Padahal, menurutnya, komoditas perkebunan cukup menentukan nasib kemajuan daerah di kancah Nasional. “Kami berharap, ada solusi yang ditawarkan pemerintah pada petani karet. Jika dibiarkan seperti ini terus, nasib dan masa depan petani karet kian terpuruk dan suram,” jelas dia.

Ditengah wabah Covid-19 seperti saat ini, petani karet di Kecamatan Betung tampaknya harus lebih ektra lagi dalam mengatur keuangannya. Sebab, harga getah karet beberapa minggu terakhir turut anjlok yang tentunya pendapatan petani pun ikut menurun. “Produksi memang lagi jelek ditambah harga turun terus jadi pendapatan petani karet menurun,” ungkap dia.

Slamet juga menambahkan, petani pun saat ini dihinggapi kekhawatiran jika pabrik karet setop beroperasi. Pasalnya, mayoritas petani hanya mengandalkan komoditas karet sebagai mata pencarian. “Untuk alih profesi sulit juga, berdagang butuh modal, harga-harga sudah naik,” tutur dia.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Banyuasin, Edil Fitriadi SP MSI mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya agar harga komoditi karet di Kabupaten Banyuasin terdongkrak dengan membentuk Unit Pengolahan dan Pemasaran bahan olahan karet (Bokar) dengan tujuan agar melakukan pemasaran bersama dari kelompok tani yang ada, dengan fokus utama mendapatkan harga karet yang baik dikalangan petani.

“Lebih kurang sudah ada 69 UPPB yang tersebar di Kabupaten Banyuasin. Tetapi memang, untuk menentukan karet kita dibeli dengan harga normal itu ditentukan dengan kualitas karet itu sendiri,” beber Kadisbun ini.

Meski demikian, kabar gembira bagi petani karet di Kabupaten Banyuasin yakni Pemkab Banyuasin sendiri telah melakukan rapat bersama Balai Besar Peningkatan Jalan Negara (BBPJN) Palembang, akan memanfaatkan karet sebagai bahan baku pembangunan jalan.

“Ini angin segar bagi petani karet, hasil karet kita akan dibeli untuk digunakan sebagai bahan baku pembangunan jalan negara. Artinya, ini akan meningkatkan harga jual karet petani dikalangan industri infrastruktur. Untuk saat ini memang belum direalisasikan mengingat wabah Covid-19 yang belum usai. Namun, itu akan berjalan ketika wabah Covid-19 benar-benar selesai,” pungkas dia. (Adm)