Beranda Ekobis Ditengah Keterpurukan Harga Karet, Warga Desa Talang Ipuh Panen Buah Keranji

Ditengah Keterpurukan Harga Karet, Warga Desa Talang Ipuh Panen Buah Keranji

241

BANYUASIN, GP — Ditengah keterpurukan harga karet, warga Desa Talang Ipuh Kecamatan Suak Tapeh Kabupaten Banyuasin, berharap meraup rupiah dari Panen buah Keranji. Namun apalah daya saat ini harga buah yang dikenal kaya vitamin C itu, justru anjlok ke harga Rp 8.000, jauh dari harga tahun-tahun sebelumnya Rp 30.000 perkilogram.

Salah satu keluarga yang sedang panen buah keranji adalah keluarga H Syakroni. Sejak pekan lalu Syakroni family panen buah keranji dari belasan pohon buah keranji miliknya dengan total buah keranji lebih dari tiga wintal.

“Panen buah keranji mengisi waktu luang setelah mantang (menyadap karet), untuk menambah penghasilan selain menjual karet yang sedang terpuruk.tapi kini harga keranji justru anjlok, karena keranji tidak dapat diekspor dampak covid-19″ujar Rizwam, anak kedua H Syakroni.

Meski ditengah kelesuan harga jual buah langka dengan nama latin Dialum Indum, Anggota keluarga ini tetap panen buah keranji, dengan harapan harga jual buah keranji segera membaik.
Buah keranji dikenal memiliki citarasa dominan asam dan sedikit manis.tak heran jika buah yang kaya Vitamin C ini dikonsumsi untuk mengganti langkanya Vitamin C produksi pabrik farmasi.

“Buah langka ini juga berkualitas ekspor karena sangat diminati hingga ke Arab Saudi sebagai bahan baku Vit C dan bahan kosmetik. Pohon keranji dapat tumbuh menjulang hingga lebih dari 50 meter,sehingga satu-satunya cara memanennya dengan memangkas dahan,untuk itu buah keranji baru dapat dipanen lagi pada siklus empat tahun berikutnya,” kata dia.

Menurut dia, Warga pemilik pohon keranji didesa ini (Desa Talang Ipuh), juga tengah panen buah keranji.jika mendapat perhatian lembaga terkait tanaman keranji dapat dibudidayakan secara modern, bahkan dapat menjadi tanaman tahunan unggulan bumi Sedulang Setudung Kabupaten Banyuasin.

“Saat ini tanaman pohon keranji bertahan secara turun temurun, ditanam dari biji atau warisan nenek moyang, diantara pohon karet,lalu berbuah belasan hingga puluhan tahun setelah ditanam,’ujar dia. (Adm)